Minggu, 12 Juni 2016

Ngabuburit Ramadhan 1437H di Tangerang

Bagi perantau seperti saya, perjalanan adalah hal yang lumrah bahkan harus, ada banyak hal yang ingin saya ketahui dan singgahi salah satunya pada even Ramadhan 1437H kali ini, bertandang ke Tangerang bukan hal pertama kali, namun menapaki sejarah - sejarah yang tidak tersentuh secara vulgar membuatnya penasaran. Sebut saja Masjid Pintu Seribu yang cukup melegenda dari mulut kemulut yang makin membuat hati penasaran, akhirnya pada ramadhan kali ini saya beserta kawan2 memutuskan untuk mengunjungiMasjid yang konon terbilang nyentrik dengan segala perpaduan kultur bangunannya, dan juga lorong sempit dan ruang gelap untuk bertafakur itu yang menjadi spesial.

Bertolak dari Tol Cilegon Barat pukul 13.35 wib, melalui Tol yang cukup panjang, rute yang kami tempuh tidak memakan waktu yang lama karena siang itu Tol cukup lancar hanya macet ketika memasuki kawasan industri Jatake setelah keluar melalui Tol Curug/Bitung dan beberapa jalan protokol Tangerang.

Menempuhnya cukup melelahkan melalui pinggiran Kota Tangerang, melewati sisi Sungai Cisadane dan sempitnya jalan perkampungan penduduk. Masjid Pintu Seribu bernama lengkap Masjid Agung Nurul Yaqin Pintu Seribu (999), angka 999 merupakan esensi dari 99 Asmaul Husna dan 9 Wali (Walisongo), terletak di RT 01 RW 03, Kampung Bayur, Priuk Jaya, Jatiuwung, Kabupaten Tangerang, Banten. dilalui dengan jalan yang cukup berliku saran saja jika anda menggunakan aplikasi google map harus tetap jeli dan teliti compare juga dengan bertanya pada penduduk sekitar karena banyak jalan sempit yang tidak bias dilalui kendaraan roda 4, namun untuk roda 2 tidak jadi soal.

SKM Pemerintah Tangerang


Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 1 hektar  ini didirikan sekitar tahun 1978.  Pendirinya adalah seorang warga keturunan Arab yang warga sekitar menyebutnya dengan sebutan  Al-Faqir. Al Faqir ini adalah salah satu santri dari Syekh Hami Abas Rawa Bokor yang memulai pembangunan masjid itu dengan membuat Majelis Ta’lim terlebih dahulu di daerah tersebut. Ia pun membangun masjid ini dengan merogoh koncek kantongnya dari sendiri.

Warga sekitar pun untuk menghormatinya lantas memberikannya gelar Mahdi Hasan Al-Qudratillah Al Muqoddam. Al-Faqir ini kabarnya tidak membangun majis di Tangerang saja melainkan  juga membangun masjid serupa di Karawang, Madiun, dan beberapa kota lain di Indonesia.



Lokasi Parkir Kendaraan


Bangunan Masjid Pintu Seribu, Bangunan Hijau disisinya adalah Rumah tinggal keluarga pendiri

Tidak seperti saat kita membangun sebuah bangunan yang harus didahului dengan membuat rancang bangunnya atau blueprintnya terlebih dahulu. Masjid seribu pintu ini pembangunan justru tidak memakai gambar rancang.
Jadi tidak desain dasar yang bisa menampilkan corak arsitektur tertentu. Bisa dikatakan masjid ini campur aduk desain arsitekturnya bila dilihat dari adanya pintu-pintu gerbang yang sangat ornamental mengikuti ciri arsitektur zaman Baroque, tetapi ada juga yang bahkan sangat mirip dengan arsitektur Maya dan Aztec. Masjid ini memang memiliki banyak sekali pintu, namun tidak memiliki kubah besar sebagaimana masjid pada umumnya.
Di beberapa pintu masjid tampak ornamen dengan angka 999. Angka 999 itu merupakan penggabungan jumlah asma Allah yang berjumlah 99 dan 9 wali. Di antara pintu-pintu masjid terdapat banyak lorong sempit dan gelap yang menyerupai labirin. Di ujung lorong ada beberapa ruang  bersekat-sekat hingga membentuk ruangan seperti mushola dan setiap ruangan (mushola) yang luasnya  adalah sekitar 4 meter diberikan nama. Ada mushola Fathulqorib, Tanbihul-Alqofilin, Durojatun Annasikin, Safinatu-Jannah, Fatimah hingga mushola Ratu Ayu.
Setiap lorong di masjid ini sudah dilengkapi dengan penunjuk jalan. Dan, salah satu ruang dari sekian banyak lorong itu menuju ruang bawah tanah yang disebut ruang tasbih. Ruang ini biasa digunakan oleh Al Faqir dan jamaah lainnya untuk ber-istiqomah.

Pintu Masuk Masjid

Isilah buku tamu sebelum masuk


Area Dalam Masjid

Pintu Masuk Masjid yang masih dipakai untuk Sholat


Ada banyak ruangan didalam masjid, masjid ini tidak seperti masjid biasanya, banyak sekat dan ruang2 tersendiri yang fungsinya berbeda didalamnya cukup unik.


Ada baiknya ketika anda mengunjungi Masjid ini mintalah pendampingan dari Pengurus Masjid setempat, agar lebih faham setiap sisi bangunan juga sejarahnya berikanlah biaya seikhlasnya walau si Pengurus tidak meminta.

Setelah menyempatkan Sholat Azhar kami melanjutkan berkeliling di sekitar Masjid.

Makam Pendiri Masjid beserta keluarganya
Kami juga berkesempatan mengunjungi Maqom tasbih untuk merasakan dan merenung bagaimana nantinya perjalanan di Alam Barzah.

Pintu Masuk Maqom Tasbih (Bagungan terpisah dai bangunan inti)


Lorong gelap menuju Maqom Tasbih

Maqom Tasbih




Pengalaman tersendiri mengujungi maqom tasbih yang sungguh berbeda dari pengalaman mendebarkan lainnya, hanya berbekal Flash Light via HP android maka kami menyusuri koridor yang seperti labirin namun gelapnya luar biasa, tempat yang amat lembab, basah, dan gelap menjadi rasa tersendiri, diapit dinding yang teramat sempit bahkan kadangkala kita harus merunduk dan menyerongkan badan agar dapat terus berjalan diatas lantai Tanah basah itu. Setibanya di ujung maqom kami dipersilahkan untuk duduk bersila untuk merenungi hidup dan segala dosa yang telah berlalu ditengah kegelapan yang sungguh teramat sangat, bahkan kawan2 saya pun tidak terlihat yang duduk bersebelahan dengan saya, entah bagaimana jika di Barzah nanti...Astagfirullohaladzim...

Masih agak shock setelah keluar dari pintu Maqom tasbih

Berkeliling diseputar Masjid

Koridor Halaman Masjid

Pintu Masuk Masjid



Tampak lantai atas Masjid, namun sayang hanya dibuka pada waktu tertentu

Tidak semua sisi Masjid dapat kami kunjungi, dan masih tersimpan banyak misteri seputarnya, semoga ada ibroh yang didapat. amiinn...

Melanjutkan perjalanan kami berkeliling Kota Tangerang yang cukup padat terutama di Pasar Lama, awalnya kami ingin berbuka puasa disana namun tidak mendapat tempat untuk parkir.

Alun - alun Ahmad Yani, Tangerang

Musholla di Alun - alun Tangerang

Malam di Alun - alun

Angkringan di sisi jalan alun-alun

Tepian Cisadanae park




Cisadane Walk


Di Tepi Sungai Cisadane dengan latar brand bertuliskan Kota Tangerang


Isya di Al Azhom


View Al Azhom, Tangerang


Banyak ibroh yang didapat dari perjalanan kali ini, semoga akan bermanfaat dimasa masa mendatang.

Salam,

MN (C) 2016








Selasa, 05 Januari 2016

ASAL - USUL SUKU LAMPUNG - (Oleh Marwansyah W)




Oleh:
Marwansyah Warganegara
(TMII, Jakarta-1994)


Zaman dahulu kala ada sekelompok suku bangsa bertempat tingal di sungai Tatang dekat Bukit Siguntang Sumatera Selatan.
Mereka dibawah pimpinan sebagai berikut :
1. Lebar Daun
2. Anak Dalam
3. Serang
4. Naga Barisang
5. Dayang
6. Rakihan
 
Diantara mereka berenam tersebut, yang tiga pergi mengembara untuk mencari penghidupan. Ketiga orang tersebut adalah :
1. Anak Dalam
2. Naga Barisang
3. Dayang
 
Pertama kali mereka bertiga bertempat tinggal di pinggir sungai Batang hari, lalu anak Dalam ke Bengkulu, Naga Barisang ke Danau Ranau sedangkan keturunan Dayang kedaerah Pasemah. Keturunan Anak Dalam lalu pergi menyusul keturunan Naga Barisang yang lebih dahulu berada di Danau Ranau dan terakhir menyusul keturunan Dayang.
 
Di daerah Ranau ini mereka mengadakan musyawarah untuk mengatasi kesulitan yang di hadapi. Mereka melakukan baercocok tanam dan menangkap ikan. Selang beberapa lama dating menyusul anak cucu Rakihan kedaerah Ranau. Perselisihan selalu terjadi antara anak buah mereka, lalu diambil keputusan bersama sebagai berikut :
 
I. Pembagian daerah berdasarkan keturunan masing-masing harus mempunyai tanda :
1. Cabang kayu sebelah bawah sekali dipotong adlah tanda hak milik anak cucu Talang Tunggal Peteting Anak Aji.
2. Cabang kayu nomor dua dari bawah dipotong adalah tanda hak milik anakcucu Ruh Tunggal dan Jagad Hyang Prabu.
3. Apabila dibawah pohon kayu itu ada unggukan batu adalah tanda hak milik anak cucu Naga Barisang.
4. Apabila kayu itu diikat batangnya denagan rotan adalah tanda hak milik anak cucu Sigeriyang.
II. Antara maereka tidak diperbolehkan membuat keributan sehingga berkelahi. Jika ytaerjadi perkelahian akan dihukum dan diusir keluar kampong.
III. Perkawinan harus melalui musyawarah dengan kedua orang tua masing-masing. Tidak diperbolehkan kawin dengan saudara kandung dan sepupu.
IV. Suami tidak boleh memukul isteri sampai cidera / mati.
 
 
Dari daerah Ranau ini keturunan Naga Barisang dibawah pimpinan Poyang Sakti pindah ke Cinggiring Skala Brak. Poyang Sakti sewaktu pindah dari Ranau masih berusia remaja, sedangkan kedua orang tuanya Poyang Naga Jaya sudah tua dan dalam keadaan sakit.
 
Di Skala Brak Poyang Sakti berjumpa dengan Poyang Serata Di Langik dan Poyang Kuasa. Rombongan Poyang Sakti sebagian menetap di tiyuh Canggu dengan pimpinan Poyang Sai Jadi Saktiyang lain menuju cinggiring dibawah pimpinan Poyang Sakti. Sewaktu perjalanan menuju ke Cinggiring disekitar tiyuh Batu Brak, Poyang Sakti berjumpa dengan Poyang Pandak Sakti yang dating dari daerah Muara Dua. Mereka berempat sepakat membentuk persekutuan “Paksi Pak Tukket Pedang” yang terdiri dari :
 
1. Poyang Sakti (Buay Balam)
2. Ppoyang Kuasa Buay Semenguk)
3. Poyang Serata Di Langik (Buay Nuwat)
4. Poyang Pandak Sakti (Suku Pak Ngepuluh Buay Aji)
 
Maksud mereka mendirikan persekutuan ini adlah untuk menjaga keamanan disekitar Skala Brak karena selalu terancam dari perampokan yang dating arah Pesisir dan Palembang. Perampok ini berasal dari Negeri Cina yang merajalela dipedalaman Sumatera, yang dikepalai oleh Leang Tao Ming dan dapat ditangkap Laksamana Cheng Ho pada tahun 1407 atas perintah Kaisar Yung Lo.
 
Poyang Sakti Menikah dengan Dayang Metika, Anak Poyang Kuasa Buay Semenguk. Dari perkawinan ini lahirlah :
 
1. Poyang Junjungan Sakti
2. Puteri Indera Bulan
 
Puteri Indera Bulan setelah remaja sangat camtik dan tangkas. Suasana hidup ketika itu sangat keras akibat perampokan terjadi di mana-mana, sehingga membentuk watak dan pribadi Puteri Bulan menjadi keras. Dia belajar ilmu bela diri dan pandai main senjata tajam.
 
Setelah itu datanglah rombongan tiga orang Empu secara berturut-turut yang berasal dari Pagaruyung Laras Bodi Chaniago. Mereka masing-masing :
 
1. Empu Cangih yang kelak bergelar RAtu Di Puncak
2. empu Serunting yang kelak bergelar Ratu Di Pugung
3. empu Rakihan yang kelak bergelar Ratu Di Belalaw
 
Mereka meninggalkan Pagaruyung tahun 1347 akibat pertentangan antara Datuk Ketemanggungan dengan Datuk Parpatih Nan Sabatang sewaktu pemerintahan Adityawarman mantan mahamenteri Majapahit. Datuk Perpatih Nan Sabatang memerintah scara adat di minangkabau yang bersifat disentralisasi dan demokratis yang sudah dipengaruhi Ajaran Islam, sedangkan datuk ketemanggungan system sentralisasi dan otokratis, sehingga tidak dapat berkembang dan brtolak belakang dengan Datuk Perpatih Nan Sabatang.
Ketiga orang Empu ini adalah keluargan dari Parpatih Nan Sabatang yang berasal dari Laras Bodi Chaniago yang meninggalkan Pagaruyung menuju Bengkulu dan menetap didaerah perkebunan lada di Ranau.
 
Akibat bencana alam dan letusan gunung api mereka terpaksa pindah kearah selatan sampai di Bukit Pesagi Skala Brak. Kedatangan mereka ini sekaligus menyebarkan agama Islam kepada penduduk Skala Brak Yang beragama Animisme dan Hindhu Bhairawa dan mereka tahun 1350 muari dengan Puteri Bulan di Cinggiring lalu meneruskan perjalan ke Bukit Pesagi.
 
Sesampai mereka di Bukit Pesagi terlebih dahulu mereka ngedudu (memanggil) dengan menanyakan apakah ada orang disana. Maka di jawab dengan jawaban “Wat” yang berarti ada. Lalu mereka menuju kearah suara dan berjumpa dengan seorang yang bernama Poyang Serata Di Langik. Poyang Serata Di Langik yang menurunkan Buay Nuwat. Nuwat berasal dari kata ”Meno Wat” berarti lebijh dulu berada disana. Tidak lama kemudian datanglah orang yang mengaku berasal dari Segara Baka Kahiyangan bernama Poyang Aji Saka. Terlebih dahulu diadaka uji coba kekuatan dengan Poyang Sakti ternyata tidak ada yang kalah dan menang. Poyang Aji Saka dan Poyang Sakti berpadu (berunding) ternyata mereka masih satu keturunan dari sungai Tatang Bukit Siguntang.
 
Kemudian mereka disusul Poyang Makuda, Poyang Mapuga, Sang Gariha dan terakhir disusul Poyang Lunik beserta pengikutnya Sai kundang, Sai Badak, Sai Jalang, Sai Nima dan Pakku.
 
Selanjutnya beberapa waktu kemudian empat orang Empu yaitu Empu Cangih, Empu Serunting Empu RAkihan dan Empu Aji Saka berjumpa dengan sekelompok orang yang mereka anggap aneh karena cara penghidupan mereka sangat berbeda. Sekelompok orang ini mereka sebut orang Tumi. Karena mereka memakan buah durian hutan yang dalam bahasa Lampung disebut Tumi. Suku Tumi ini bertempat tinggal didaerah luas. Mereka menyambah sebatang pohon nangka yang bercabang dua yang disebut “Lemaaa Kepampang”. Cabang yang satu terdiri dari pohon nangka dan satunya lagi pohon sepukaw. Kaneham pohon nangka ini akarnya tumbuh keatas dan puncak nya kebawah. Getahnya sangat beracun dan hanya dapat sembuh dengan getah Sepukaw. Pada saat tertentu mereka mempersembahkan korban kepala manusia hasil dari mengayaw warga kampung lain untuk dipersembahkan pada pohon Melasa Kepampang.
 
Pimpinan suku Tumi seorang wanita yang bernama Puteri Sekar Mong. Setelah hal ini diketahui oleh empat orang Empu lalu mereka berunding dan mereka berunding untuk menaklukan suku Tumi serta meng-islamkan mereka. Tugas ini dibebankan kepada tujuh orang :
 
1. Poyang Kuasa
2. Poyang Pulagai
3. Sanbg Balik Kuang
4. Sang Gariha
5. Poyang Makuda
6. Poyang Mapuda
7. Poyang Nyurang
 
Mereka bertugas menaklukan orang Tumi. Puteri Sekar Mong dan Anaknya bernama Puteri Sindi dapat ditawan, sedangkan orang Tumi yang selamat melarikan diri mengikuti aliran Way Semangka lalu bersembunyi disekitar Gunung Tanggamus.
 
Pohon Lemasa Kepampang mereka tbang lalu dibawa ke Ranji Pasai dekat Kenali sekarang. Kayu Lemasa Kepampang dijadikan simbul kesatuan dan persatuan serta kesepakatan dan kebulatan kata dalam pergaulan. Benda ini disebut”Pepadun” yang berasal dari kata perpaduan. Bentuk bulatnya setinggi lutut dan cabangnya menjadi sandaran. Pepadun Lemasa Kepampang ini menjadi milik bersama oleh empat orang Empu di Skala Brak.
 
Dari daerah luas mereka menuju Ranji Pasai terus menyelusuri dataran tinggi Belalaw sampai di Chinggiring, mereka berjumpa dengan sekelompok orang dibawah pimpinan Puteri Indra Bulan. Oleh Empu Rakihan diadakan uji coba kekuatan ternyata tidak ada yang kalah dan menang. Empu Canggih lalu mengangkat Puteri Indra Bulan menjadi anak, karena Empu Canggih hanya mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Puteri Nuban yang bergelar Menak Mupun. Empu Canggih beristri tiga orang :
 
1. Puteri Laut Lebu lahir Puteri Nuban
2. Puteri Ranaw lahir Nunyai dan Unyi
3. Puteri Pagaruyung lahir Betanyang lebih dikenal dengan nama Subing.
 
Setelah daerah Skala Brak aman keempat Empu pergi ke bukit Pesagi lalu mengadakan perundingan dimana tempat masing-masing Empu dan keluarganya memilih tempat tinggal. Masing-masing Empu beritindak sebagai kepla Rombongan yang dipatuhi dan dihormati. Tempat tinggal mereka dikelilingi oleh pagar bamboo betung atau galih kayu yang disebut keratun. Keratun tersebut ialah :
 
1. Empu Canggih bergelar Ratu Di Puncak mengambil tempat di puncak bukit pesagi.
2. Empu Serunting Bergelar Ratu Di Pugung mengambil tempat di punbggung Bukit Peasagi.
3. Empu Rakihan bergelar Ratu Di Belalaw mengambil tempat di tengkuk Bukit Pesagi.
4. Empu Aji Saka bergelar Ratu Di Pemanggilan mengambil tempat di bawah Bukit Pesagi.
 
Diketahui di Skala Brak tumbuh sebuah pohon kayu Hara yang sangat besar dan tinggi. Penduduk sangat takut karena di atas pohon tersebut hidup sepasang burung garuda yang sangat ganas. Banyak orang yang mati akibat serangan Burung tersebut yang mengakibatkan rakyat di sekitar pohon itu menjadi takut atas serangan burung garuda ganas itu. Oleh keempat orang Empu sepakat untuk menebang kayu Hara. Tugas ini diserahkan kepada sembilan orang dengan pimpinan Poyang Lunik. Kesembilan orang tersebut adalah :
 
1. Poyang Lunik
2. Si Sangkan
3. Si Pandan
4. Si Kandang
5. Si Jalang
6. Si Badak
7. Si Midin
8. Si Nima
9. Si Pakku
 
Kayu Hara itu berhasil mereka tumbangkan dan garuda yang ganas dapat di usir. Akan tetapi meminta korban sebanyak tujuh orang dan yang selamat hanya Poyang Lunik dan Si Sangkan. Menurut cerita orang kayu hara tersebut setelah rubuh pangkalnya di Skala Brak dan ujungnya sampai di Teluk Semangka. Galih kayu hara diambil oleh empat orang Empu dan dijadikan kekuhan (kentongan) .
 
Untuk mengenang jasa mereka yang telah berhasil menebang kayu hara maka diabadikan bentuk kayu hara dan tancapkan ditengah lunjuk Pancah Aji. Bentuk tiruan kayu hara ini bercabang empat dan bertingkat sembilan. Disudut empat Lunjuk pancah aji didirikan juga tiruan kayu hara yang lebih pendekbercabang empat bertinkattujuh yang disebut pejaraw. Empat pejaraw melambangkan Empat keratuan. Empat cabang melambangkan empat paksi Tukket Padang, tujuh tingkat melambangkan tjujuh orang yang meninggal, sedangkan sembilan tingkat melambangkan sembilan orang pahlawan yang bertugas menebang kayu hara.
 
Lunjak Pancah Aji adalah tempat pelaksanaan perkawinan secara adat, dimana kedua mempelai duduk tindih silou serta menginjak kepala kerbau.
 
Kehidupan di Skala Brak terasa aman dan damai. Keadaan ini tidak berjalan lama. Perampokan terjadi dimana-mana terutama perampok cina yang merajalela diperairan selat malaka, pantai pesisir Sumatera, lalu memasuki sungai Musi terus ke Palembang dan menyebar ke daerah Ranau sampai ke Skala Brak.
 
Dikarenakan sering terjadi perampokan secara besar-besaran, disamping pertumbuhan penduduk semakin banyak dan perlu daerah pemukiman yang lebih luas. Untuk itu mereka mengadakan perundinngan untuk melakukan perpindahan denagn menyebar. Kesepakatan itu diwujudkan dengan sumpah dan memotong siamang putih yang dibuat bekasam dan disimpan dalam gentong. Gentong ini dapat dibuka kembali apabila keturunan empat keratuan ini dapat bersatu kembali di Skala Brak. Didalam perjanjian itu juga ditetapkan hak kekuasan adapt berada di tangan Ratu Di Puncak dan keturunananya, sedangkan puska lainnya seperti pepadun Lemasa Kepampang kekuhan dan lain-lain tetap dipegang ratu Di Belalaw dan keturunannya.
 
Ratu Di Puncak, Ratu Di Pugung dan Ratu Di Pemangglan pindahmencari daerah yang baru dimana perpindahan tersebut terjadi dua arah melalui jalur Raau dan kearah Martapuramengikuti aliran Way Komering dan melalui pantai Pesisir. Rau Di Puncak pindah ke daerah Selabung kemudian Pindah lagi ke hulu way Abung yaitu di Canguk Gaccak. Empu Pandak Sakti dan beberapa orang Jurai Ajimenempati sepanjang Way Komering.Empu Kuasa, Sang Balik Kuang, Empu Pemuka menempati Way Pisang, Way Kanan dan Way Besai. Keturunan Empu Serata Di Langik dan pak Lang Jurai Ratru Di Pugung menempati Mnempati daerah di Way Besai hinggga Way sekampung, Poyang Lunik dan sangkan sampai Way Handak sedangkan Sangkan pinadah lagi ke muara Way Sekampung.
 
Keturunan Ratu Di Pemanggilan sebagian di daerah Way Rarem dan beberapa Jurai menempati daerah antaraWay Seputih. Sedangkan keturunan Puteri Bulan menempati daerah Way Semangka hingga way Sekamapung lalau pindah lagi ke Way Tulang Bawang. Ketururnan Ratau Di Belalaw tetap tinggal dei Skala Brak dan terakhir sebagian pindah ke daerah Ranau dan Daerah Kota Agung yang kemudian mendirikan persekutuan adapt “Paksi Pak Skala Brak”.
 
Diceritakan bahwa Empu Rakihan yang bergelar Minak Rio Belunguh menikah dengan Puteri Bulan Bara Jurai dari Puteri Indra Bulan bertempat tinggal di luas, dari perkawinan inilahirlah :
 
1. Empu Menyata
2. Empu Turgak
 
Didalam perjanjian bahwa Buay Menyata dan Buay Turgak tidak ikut clan Empu Rakihan, tetapi ikut dalam clan ibunya yaitu Jurai Puteri Indra Bulan. Kemudian Empu Rakihan Kawin dengan Puteri Sindi anak dari Puteri Sekarmong dan menetap di Ranji Pasai dekat Kenali. Dari perkawinan ini lahirlah :
 
1. Empu Belunguh
2. Empu Nyerupa
3. Empu Parenong
4. Empu bejalan Di Way
 
Tetapi menurut keterangan pangeran Syafei Kenali, Empu Parenong dan Empu Bejalan Di Wai berasal dari Darmas Raya. Jadi empat Empu inilah merupakan cikal bakal Paksi Pak Skala Brak. Sewaktu mendirikan Paksi Pak ini dihadiri utusan dari:
 
1. Buay Nunyai
2. Buay Unyi
3. Buay Subing
4. Buay Nuban
5. Buay Bulan
6. Buay Semenguk
7. Buay Nuwat
8. Buay Tumi
9. Buay Menyata
10. Buay Turgak
11. Buay Aji
12. Buay Sandang
13. Buay Rawan
14. Buay Runjung
15. Buay Pemuka
 
Kelima belas ke-buay-an ini ikut menghadiri pembentukan Paksi Pak di Skala Brak, dan diputuskan bahwa Buay Menyata diangkat menjadi ”Aanak tuha” yang dihormati sedangkan Puteri Indra Bulan diangkat menjadi “Anak Bai” (saudara perempuan) yang disayangi. Keturunan Purteri Indra Bulan pada waktu itu tidak berhak menjadi Paksi dan diputuskan oleh Perwatin Paksi Pak untuk memegang pusaka Ratu Pak yang dipegang oleh Ratu Belalawberupa Pepadun Lemasa Kepampang, Kekuhan, Sesam Siamang,putih dan lain-lain. Sewaktu itu setiap pengankatan seseoarang Paksi yang baru di Skala Brak harus naik pepadun Lemasa Kepampang yang dipinjam pada keturunan Puteri Indra Bulan di Cinggiring yang dikuasakan kepada Wayang Kemala.
 
Hubungan Paksi Pak Skala Brak dengan keturunan Puteri Indra Bulan sangat harmonis dan berjalan lancar, sehingga timbul istilah “Paksi Pak ke Lima Buay Nerima, Cumbung Pak, kelima Sia”. Yang dimaksud Buay Nerima adalah keturunan Puteri Indra Bulan di Cinggiring dan luas. Keharmonisan ini tidak bias berjalan lama, dikarenakan Paksi Buay Belunguh dan Paksi Buay Parenong ingin menguasai pusaka peninggalan Ratu Pak yang dipercayakan pada keturunan Puteri Indra Bulan, serta perselisihan prbatasan antara Paksi Pak dengan Buay Bulan. Hal ini mengakibatkan kerenggangan antara Paksi Pak dengan Buay Bulan baik yang berada di Cinggirig maupun di luas.
 
Kericuhan ini trdengar oleh Ratu Di Puncak yang berada di Canguk Gaccak, Ratu Di Puncak memerintahkan Minak Serappou. Minak Nyabak dan Minak Termindak dating ke Cinggiring untuk menengahi perselisihan.
 
Setelah sampai di Cinggiring diadakan perundingan di Bah Way antara Paksi Pak dengan Buay Bulan, Buay Menyata, Buay Turgak dan diambil Keputusan Buay Bulan dibawah pimpinan Nago Gayo gelar Minak Rio Sakti akan pindah menyusul Ratu Di Puncak di Canguk Gaccak. Sedangkan saudara Nago Gayo antara lain Nago Liu pidah kedaerah Melebui Balak/ Lunik, Puteri Linggang menikah dengan Minak Ngejengaw Tuha di Kembahang. Keturunan Minak Rio Sakti bernama Minak sakowiro dan Minak Sengencang Bumi sepakat untuk pindah mengikuti Way Semangka terus ke Pugung sebagian menetap di Way Sekampung.
 
Kepercayaan untuk memgang pusaka Ratu Pak yang semula di pegang oleh keturunan Buay Bulan lalu di serahkan kepada Buay Menyata di Luas. Sewaktu pembentukan adat Pasi Pak Skala Brak dalam rangka meresmikan pengangkatan Paksi yang baru tahun 1825 diman utusan dari Buay Bulan Semar Gelar Akkuan Batin Kepala Kampung Tegineneng kibang masih terlihat tata cara lama di Sukaw di dalam sesat ada pengejongan khusus untuk Buay Bulan, Buay Menyata, Buay Turgak dan Buay Aji dimana sekarang, setiap nayuh Balak yang dilakukan oleh Paksi Pak hal ini tidak tampak lagi.padahal jauh sebelum Penjajahan Belanda/Inggris dating hubungan Paksi Pak dan Paksi Kebuay-an berjalan lancar.
 
Sesampai Nago Gayo di Canguk Gaccak disana telah berada Buay Nunyai, Buay Unyi, Buay Subing, Buay Nuban, Buay Yuk keturunan Ratu Pemanggilan jurai Poyang Semenekaw rupanya Minak Rio Kunang telah lebih dulu di Hulu Way Rarem, dan Peteting Anak Aji keturunan Ratu Pemanggilan dari Jurai Poyang Rakihan yang bertempat tinggal di Ulok Tiga Ngawan. Peteting Anak aji kawin dengan anak petrempuan Nunyai yang paling tua betrnama Cani Gelar Minak Indeman dan terakhir sekali datang menyususl dan bergabung dengan mereka.
 
Di Canguk Gaccak inilah mereka sebanyak sembilan orang berkumpul. Kesembilan orang inilah sebagai cikal bakal abung Siwo Migo dengan urutan sebagai berikut :
 
1. Nunyai
2. Unyi
3. Subing
4. Nuban
5. Bulan
6. Beliuk
7. Selagai
8. Kunang
9. Anak Tuha
 
Dalam pertemuan Abung Siwo Migo pertama dengan keputusan bahwa delapan orang saudara Nunyai mendapat hak Ngujuk Ngekuk, tetapi belum dapatkan adapt kebumian. Hadir dalam pertemuan ini sebagai saksi adalah : Sumbai Tegemoan, Sumbai Pemuka, sumbai Bahuga dan Sumbai Semenguk.
 
Besarnya pengakuk mereka yang delapan baru 400, sedangkan nunyai tetap 600. Mereka yang menjadi saksi belum mendapat hak adapt dari sinilah lahirnya istilah ‘Abung Siwo Mingo’ dan ‘Pak Sumbai’.
 
Ketika diadakan Mecak Wirang di Gilas didaerah Way Besai dimana nunyai, Unyi, Subing dan Nuban merayakan kemenangan mereka dapat membunuh raja Di Lawok yang dihadiri oleh :
 
1. Suku Pubian tiga belas Jurai
2. Buay Tegamoan
3. Buay Pemuka
4. Buay Bahuga
5. Buay Semenguk
6. Buay Silamayang
 
Mecak Wirang di Gilas ini menetapkan pembagian adat dan harta warisan.
 
Peristiwa kejadian yang menimbulkan kerenggangan antara Abung Siwo Mego adalah peperangan antara orang Abung dan Pubiyan melawan Minak Indah kampung panarangan keturunan Mi nak Rio Sanak Buay Teagamoan. Minak Indah merasa sakti dan gagah berani. Dia mempunyai anak gadis, sebanyak tujuh orang. Sewaktu orang meminang anak gadisnya, Minak Indah memberi syarat harus menyerahkan emas seberat badan gadis itu lalu terjadilah peperangan sehingg a Minak Indah terbunuh oleh Minak Naga Ngumbang Hulubalang Minak Srappo Kiyo dari Terbangi dengan senjata Subang Gading, penuang dan Kayas Ibung Ngelamang batu milik Minak Paduka Buay Nunyai. Anak gadisnya berjumlah tujuh orang masing-masing diambil dari Kotabumi, Buyut, Surabaya, Mataram, Terbanggi, Bumi Aji dan Lingai. Satu menantunya diambil Minak naga Ngumbang. Perayaan untuk merayakan kemenangan ii berlangsung di Kotabumi Tua dipinggir Way Pangubuan.
 
Setelah itu keturunan Ratu Di Pugung yang berada di sekitar Way Pangubuan dan keturunan Ratu Di Penmggilan yang berada di Way Seputih membentuk adapt pubian Telu Suku. Keturunan Ratu Di Pugung bergabung dalam dua suku yaitu masyarakat dan Tambapupus dan keturunan Ratu Di Pemanggilan adalah suku Bukujadi, Pembentukan adapt Pubian Telu Suku ini dihadiri oleh utusan Abung Siwo Migo dan Sumbai dari Way Kanan. Ketiga suku itu adalah :
 
I. Suku Masyarakat
1. Buay Kediangan
2. Buay Manik
3. Buay Nyurang
4. Buay Gunung
5. Buay Kapal
6. Buay Selagai Jurai Rawan
 
II. Suku Tambapupus :
1. Buay Nuwat
2. Buay Pemuka Pati Pak Lang
3. Buay Pemuka Menang
4. Buay Semima
5. Buay Pemuka Halom Bawak
6. Buay Kuning
 
III. Suku Buku Jadi :
1. Buay Sejadi
2. Buay Sejaya
3. Buay Sebiyai
4. Buay Ranji
5. Buay Kaji
6. Buay Pukuk
 
 
******

Selasa, 29 Desember 2015

Jelajah Nusantara dari Lebak, Banten

Rangkasbitung, Lebak, Banten.....
Salah satu Kabupaten di Provinsi Banten yang berbatasan langsung dengan Bogor, Jawa Barat. Lebak menyimpan kekayaan alam yang cukup melimpah, kabupaten yang mayoritas bersuku sunda ini memiliki Ibukota yang cukup rapih dan cukup baik tata kota nya, satu level lebih baik dan tertib dari Pandeglang.


Wisata alam menjadi daya topang dan kekuatan kabupaten ini, Pantai dan pegunungan yang indah ditawarkannya, salah satu pantai ternama adalah Sawarna di daerah Bayah, masih ada Arung Jeram Lebak Gedong yang panjangnya mencapai 10 KM, melelhkan pastinya.


Bertolak dari Kota Pandeglang menuju Rangkasbitung, Lebak dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 1 jam perjalanan, setelah tiba di Kota Rangkasbitung, Lebak dengan melewati Jembatan Rangkas, Kotanya tropis berbeda dengan Pandeglang yang memang diapit gunung.








Di depan Alun - alun Rangkasbitung Kota



Alun - Alun Rangkasbitung

Istirahat sejenak di Alun-alun Rangkasbitung setelah 40 Km

Alun - alun Rangkasbitung

Masjid Agung Rangkasbitung (AL - A'RAF)

Taman Kota Rangkasbitung


Tidak berlama - lama kami di Rangkasbitung, setelah mengabadikan beberapa momen di Landmark Kota Rangkasbitung, kami melanjutkan perjalanan menuju tujuan utama KAMPUNG BADUY, di Desa Kanekes, Leuwi Damar, Lebak dan ternyata perjalanan masih cukup jauh masih sekitar 2 jam lebih dari Rangkas, untuk menuju terminal Ciboleger, itu baru masuk di Terminalnya belum sampai di Kampung Baduynya, untuk tiba di Kampung pertama Dusun Kadungketuk dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 3 Km lagi, dan ternyata itu baru tiba di Kampung Baduy Luar, dan Baduy Dalamnya seperti Dusun Cikeusik masih 22 Km ditempuh harus dengan berjalan kaki, karena memang perjalanan melewati jalan setapak, naik turun gunung. Kondisi fisik memang harus prima saat menapaki perjalanan di Kampung Baduy.




Jum'atan & Makan Siang di Leuwihdamar, menu Ciboleger masih sekitar 8 Km didepan

Terminal Ciboleger


Di Terminal Cibolegerlah terakhir kalinya kita bias menggunakan kendaraan menuju Baduy, selebihnya ditempuh dengan berjalan kaki. Diterminal inipula banyak ditawarkan cindera mata khas kerajinan tangan masyarakat Baduy, mulai dari Kain Tenun harganya sekitar 250 - 150 ribu rupiah, gantungan kunci, topi khas baduy, dan beberapa buatan konveksi masyarakat sekitar (non baduy) berupa kaos bergambarkan tradisi adat dan budaya Baduy luar.

Ada juga madu murni khas Baduy, Dodol, dan beberapa makanan khas Baduy. harus pandai-pandai bernegosiasi rupanya agar bijak dalam membeli. Memasuki kampong Baduy harus didampingi oleh seorang Guide, anda dapat meregistrasikan diri dan tim dalam buku kunjungan dalam sekali lintasan yang termurah adalah Dusun Gajeboh sekali lintas hanya 150 ribu harga termasuk HTM dan Guide.

Jika ingin masuk ke Dusun yang lebih jauh lagi kita harus membayar ongkos yang lebih mahal juga, terlebih lagi jika sampai menginap, jangan lupa membawa segala sesuatu dengan lengkap, harga kisaran 150 ribu hingga 1 juta, tergantung pada pilihan kunjungan.


Pose dulu dengan Atribut Baduy Luar, di Monumen Kenangan

Monumen Penghargaan salah satu Club Motor atas Kontribusinya di Kampung Baduy

Menanjak, Perjalanan dimulai

Didepan Gapura pintu masuk Kampung Baduy

Desa Kadungketuk, Baduy Luar

Cinderamata hasil kerajinan tangan Baduy Luar


Menuju Kampung Gajeboh, Baduy Luar

Masyarakat Baduy sendiri terbagi menjadi 2 golongan; Baduy Luar dan Baduy Dalam, mereka yang memilih untuk tidak menerima kemajuan zaman dengan segala fasilitasnya dan masih memegang teguh ajaran murni nenek moyang Sunda Wiwitan disebut Baduy Dalam, dan sebaliknya mereka yang memeiliki toleransi dan masih dapat menerima perkembangan zaman disebut Baduy Luar.

Orang yang bersuku Baduy cenderung memiliki stamina yang kuat karena memang sedari kecil terbiasa bekerja keras dengan alam yang luar biasa, Suku Baduy sendiri mengikuti ajaran kepercayaan Sunda Wiwitan dan berkiblat kearah selatan, itulah sebabnya rumah mereka selalu menghadp ke selatan.

Saat memasuki Baduy luar kita memang diizinkan untuk mendokumentasikan segala sesuatu dengan camera atau handycam namun jangan sekali-sekali mendokumentasikan rumah ataupun Kepala Suku nya karena hal ini dilarang, Pamali.

Dan ketika kita memilih untuk mengunjungi Baduy Dalam artinya kita sudah siap menanggalkan semua atribut teknologi yang dibawa, and back to nature.



Salah seorang suku Baduy Dalam (berkaos putih)

Bersama Suku Baduy Dalam

Dengan Nafas tersengal menuju Kp. Gajeboh Baduy Luar

Lelah...

Akhirnya istirahat sejenak


Kampung Gajeboh


 Wanita Baduy "Menenun Kain"

Jembatan Bambu di Kadungketuk




Suku Baduy bersosial dengan sesamanya

Pintu masuk Terminal Ciboleger


Akhirnya kami menuju arah pulang, tersimpan memori dibalik Gunung dibelakang kami ada Suku Baduy yang pernah kami kunjungi, kan jadi momen sejarah.




Salam,

MN@2015